Pulau Morotai merupakan salah satu pulau terbesar di
Maluku Utara yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup melimpah,
baik di sektor pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan,
pertambangan maupun potensi pariwisata sejarah terutama tempat-tempat
sejarah peninggalan Perang Dunia Kedua. Potensi ini dapat dijadikan
sektor andalan yang memiliki nilai ekonomis baik dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan Maluku Utara umumnya maupun masyakarat Pulau
Morotai khususnya serta peningkatan devisa bagi daerah.Dari aspek geografis pulau Morotai memiliki posisi strategis karena berada di bibir jalur perdagangan Asia Pasifik. Posisi geografis wilayah Kabupaten Pulau Morotai berada pada koordinat 2000 sampai 2040LU dan 128015 sampai 128040‟ BT. Adapun batas-batas administrasi yang dimiliki oleh kabupaten ini adalah, sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Samudera Pasifik
- Sebelah Barat : Laut Sulawesi
- Sebelah Timur : Laut Halmahera
- Sebelah Selatan : Selat Morotai
Kabupaten Pulau Morotai mempunyai luas wilayah 4.301,53
Km2, dengan luas daratan seluas 2.330,60 Km2 dan luas wilayah laut
sejauh 4 mil seluas 1.970,93 Km2. Panjang garis pantai 311.217 Km.
Jumlah pulau-pulau kecil yang terdapat di Kabupaten Pulau Morotai
berjumlah 33 pulau dengan rincian pulau yang berpenghuni berjumlah 7
pulau dan yang tidak berpenghuni berjumlah 26 pulau.
Pulau Morotai sebagian besar berupa hutan dan memproduksi kayu serta
damar dan sangat strategis sebagai jalur perdagangan di timur Indonesia.
Selain itu, Pulau Morotai memiliki kekayaan alam seperti Emas, Biji
besi, dan lain-lain, juga potensi wisata bahari yang mempesona.Menurut penduduk setempat, Morotai berasal dari kata Morotia yang artinya tempat tinggal orang-orang moro. Orang moro adalah manusia misterius atau orang hilang (Jawa – Moksa) yang sulit dilihat dengan mata biasa, namun memiliki kebudayaan sebagai kelompok manusia biasa. Masyarakat Kabupaten Pulau Morotai memiliki hidup cenderung berkelompok, meski satu sama lainnya berbeda keyakinan. Kegotogroyongan, saling menghargai perbedaan keyakinan menjadi salah satu ciri masyarakat Kabupaten Pulau Morotai.
Sebagai pulau yang terlepas dari pulau besar Halmahera, Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk sekarang yang menetap dan beranak-pinak di Pulau Morotai berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela di Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara. Kedua suku (sub-etnis) tersebut mendominasi mayoritas penduduk Morotai hingga kini. Migrasi penduduk dari kedua suku ini disebabkan oleh bencana alam yaitu meletusnya gunung berapi di pulau tersebut.
Selain terdapat kedua etnis diatas (Suku Tobelo dan Suku Galela), kelompok-kelompok etnik lain yang mendiami Pulau Morotai diantaranya adalah berasal dari Sulawesu Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesu Utara, Jawa, Sumatera, Cina Maluku, dan lain-lain. Diantara mereka ada yang melakukan hubungan pernikahan dengan penduduk asli setempat dan ada yang tinggal sementara waktu untuk mencari nafkah. Mayoritas penduduk Pulau Morotai beragama Islam dan Kristen, sebagian kecil lainnya pemeluk agama Konghucu, Hindu, dan Budha.
Setidaknya ada 25 titik penyelaman di pulau Morotai yang menyuguhkan keindahan tiada tara diantaranya ada Tanjung Wayabula, Dodola Point, Batu Layar Point, Tanjung Sabatai Point, hingga Saminyamau. Semuanya luar biasa indah, dengan perairan jernih berwarna biru tua, biota laut yang indah, serta terumbu karang dari bekas-bekas reruntuhan kapal perang yang terawat dengan baik.
Keindahan alam Pulau Morotai tak hanya tercermin lewat bawah lautnya saja, tapi juga di daratannya. Hamparan pasir putih yang luas siap memanjakan mata siapa pun yang menginjakkan kaki di atasnya. Panorama matahari terbit dan tenggelam menjadi salah satu momen paling dinanti oleh wisatawan.
sumber: https://keranjangkue.wordpress.com/2013/09/20/pulau-morotai/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar